Alam.Id- Wisata Mangrove Marisa yang berada di Kabupaten Pohuwato menjadi salah satu ikon wisata yang selalu dikunjungi di akhir pekan oleh wisatawan lokal. Bahkan ada juga yang selalu menyempatkan berkunjung di hari-hari biasanya, akan tetapi, di akhir pekan lah pengunjung sangat ramai dijumpai. Karena lokasinya terletak tidak begitu jauh dari pantai kelapa dua pohon cinta, yang juga menjadi pusat keramaian di Pohuwato yang banyak dikunjungi menjelang sore hari tiba.

Wisata Mangrove ini menjadi tempat paling digemari dan menjadi pilihan untuk sekadar menghabiskan sore hari di akhir pekan oleh para pengunjung. Dari anak-anak hingga orang dewasa mengunjungi tempat tersebut. Pengunjung yang datang akan disuguhi pemandangan hutan bakau yang tumbuh dengan sangat lebat, beberapa di antaranya pun selalu dijadikan tempat untuk berswafoto.

Lokasi yang strategis, akses yang begitu mudah, dan fasilitas yang ditunjang dengan baik menambah kenyamanan bagi para wisata yang ingin berkunjung. Sarana yang telah disediakan berupa jembatan yang terbuat dari kayu dan saling terhubung dengan yang lainnya; membuat pengunjung lebih leluasa melihat lebih ke dalam Wisata Mangrove tersebut.

Bahkan pada beberapa kesempatan di sore hari, pengunjung dapat melihat matahari terbenam; yang telah selesai beradu di peraduannya.

Sinta (20) pengunjung yang sering kali menghabiskan waktu sore harinya di Wisata Mangrove ini, mengatakan tak pernah bosan atau pun puas saat mengunjungi tempat ini. Kebiasaannya selepas dari tempat kerja selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke tempat ini rutin ia lakukan. 

“Saya setiap sore sering ke sini, ingin menghabiskan waktu sore hari saja. Karena di tempat ini saya merasa nyaman. Apalagi ada pohon mangrove yang bisa di lihat secara langsung,” kata Sinta kepada Alam.id, Jumat (13/03/2020).

Sinta juga mengatakan, puncak paling ramai itu saat di akhir pekan. Wisata Mangrove ini dipenuhi oleh pengunjung yang hanya sekadar mengabadikan diri mereka atau ada juga pengunjung yang hanya jalan-jalan atau lalu lalang saja, sembari melihat kanan-kiri pohon mangrove begitu jelas di dekatnya.

“Di sini banyak tempat foto yang bagus. Apalagi latarnya panorama hutan mangrove, serta di beberapa kesempatan pengunjung dapat melihat senja yang indah saat terbenam,” tambahnya.

Sinta sendiri, meskipun baru beberapa kali menginjakkan kakinya di wisata mangrove tersebut langsung jatuh cinta.

Kepenatan yang ia hadapi selama berada di kantor dan berkutat pada pekerjaan sehari-hari, ia lampiaskan saat mengunjungi wisata mangrove ini. karena menurutnya, ketenangan dan kenyaman saat berkunjung itulah yang ia inginkan. Suasana seperti itu tidak ia dapatkan saat berkunjung ke tempat lain.

Tracking Mangrove
Destinasi Wisata Mangrove Marisa. (Foto; Zul)

Sampah Masih Menjadi Masalah

Meskipun menjadi pilihan untuk bersantai ria di akhir pekan, tapi masalah sampah memang masih jadi masalah yang klasik bagi sebagian orang. Dan semua itu tentunya berdampak pada objek wisata, khususnya Wisata Mangrove Marisa .

Pengelolaan dan penyediaan tempat sampah pun masih sangat kurang, bahkan nyaris tidak ada. Hal ini juga yang dikeluhkan Sinta saat ditemui di lokasi Wisata.

Kata Sinta, ia kerap kali melihat pengunjung yang membawa makanan dan minuman yang membuang sampah sembarangan. Ia sempat berpikir, apakah karena tidak tersedianya tempat sampah di area wisata atau pengunjung tersebut tidak sadar akan sampah yang ia hasilkan.

Kejadian seperti ini paling banyak ia dapati saat akhir pekan, karena jumlah kunjungan pasti meningkat  dan sampah pun ikut melonjak.

“Saat akhir pekan itu banyak sekali sampah di jalan, dan paling disayangkan ada sampah yang dibuang ke dalam hutan mangrove. Kesadaran pengunjung saya pikir kurang, juga karena tidak tersedianya tempat sampah di sekitar atau area wisata,” kata Sinta.

Sinta juga mengakui, permasalahan sampah ini akan menjadi penghambat juga bagi kepopuleran wisata, dan untuk keberadaan hutan bakaunya ke depan.

“Permasalahannya mungkin hanya sampah, dan tempat sampahnya. Selebihnya tempat ini menyenangkan.”

Senada dengan Sinta, Budi (29) nelayan yang sering melintasi area Wisata Mangrove tersebut juga mengatakan hal yang sama, bahwa sering kali baling-baling mesin perahunya tersangkut sampah plastik di area wisata.

“Saya juga heran, setiap kali melewati area wisata itu mesin saya selalu melambat. Setelah di cek, ternyata ada sampah plastik yang tersangkut di area baling-baling,” ungkap Budi.

Bahkan menurutnya, sampah-sampah ini sering didapati di dalam hutan mangrove yang begitu tumbuh subur dan lebat tersebut. Melihat sampah yang selalu dibiarkan begitu saja, ia khawatir jika jumlah sampah tersebut akan meningkat setiap harinya.

“Sebenarnya pada awal melihat sampah saat wisata ini mulai diresmikan tidak begitu khawatir, tapi lama kelamaan juga kalau sudah banyak pasti saya khawatir. Apalagi sampah yang dibuang di sekitar hutan mangrove tersebut,” jelasnya kepada Alam.Id.

Keseharian Budi yang begitu akrab dengan laut, dan hutan mangrove yang sering ia lewati saat pergi melaut, membuat ia begitu peka akan keberadaan mangrove ke depannya. Apalagi dengan mulai di populerkannya mangrove menjadi objek wisata, Budi menaruh harapan agar ada keuntungan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Harapannya dengan adanya wisata mangrove ini juga turut mendorong tumbuhnya perekonomian, tapi bila menyepelekan penglolaan wisatanya terutama sampah juga akan berdampak tidak baik, apalagi berdampak pada kunjungan wisatanya. Jika kunjungan berkurang, masyarakat yang menyediakan lapak jualan mereka di sekitar area wisata bisa kena imbas juga,” ujar Budi dengan penuh harap saat ia hendak menyiapkan peralatannya untuk pergi melaut.****(Alam Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *