Alam.Id – Suara ombak terdengar jelas menabrak setiap perahu yang tertambat. Beberapa nelayan menghiraukan ombak sore itu, mereka seperti berkawan, tapi di beberapa kesempatan ombak bisa menjadi lawan. Kala angin barat meniup dengan kencang, ombak pun jadi lawan di lautan.

Namun, sore itu, ombak seperti biasanya, tak ada angin kencang juga. hanya angin sore yang bersemilir begitu saja, ditandai dengan nyiur yang melambai seadanya.

 Pada kesempatan itu, saya dan Radjak (24), sedang menyiapakan kebutuhan untuk kami pakai menuju salah satu tempat. Tempat di mana menjadi sebuah perenungan dan tempat bersantai paling nyaman.

Pulau Lahe nama dari tempat itu. Pulau yang secara geografis terletak di Kabupaten Pohuwato itu kini mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, dan dengan pada hari-hari tertentu seperti hari libur dan akhir pekanpulau ini banyak mendapat kunjungan.  

Waktu yang dibutuhkan pun untuk menuju lokasi pulau Lahe terhitung cukup lama; sekitar 30 menit lamanya waktu yang dibutuhkan pengunjung bisa sampai ke sana; pulau Lahe,dengan mengeluarkan biaya untuk tarif ojek perahu yang tentunya sangat relatif murah. Hanya dengan Rp20 Ribu saja, pengunjung sudah mendapatkan akses; antar-jemput oleh ojek perahu yang setiap harinya memarkir perahu mereka di sekitaran area pesisir pantai pohon cinta. 

Meskipun terhitung agak lama, tapi sesampainya di sana, hamparan pasir pantai yang putih, pohon-pohon yang memberikan kerindangan akan menyambut para pengunjung dengan senang hati, serta tersedianya beberapa spot diving yang ditawarkan oleh keindahan alam bawah laut pulau Lahe yang sangat memanjakan mata .

Waktu sudah menunjukan pukul 14.00. Saya mulai menyiapkan beberapa keperluan seperti makanan, bahan bakar, air minum, sedangkan Radjak tampak sibuk mengurusi perahu yang tertambat. Ia kelimpungan mencari jangkar, dan beberapa tali untuk keperluan nanti.

Kali ini kami naik perahu milik orang tua Radjak, yang juga perahu tersebut digunakan sebagai alat transportasi antar-jemput ke pulau Lahe, tapi berhubung kunjungan hari ini tak banyak, saya dan Radjak memanfaatkan waktu tersebut untuk menyambangi pulau Lahe bersama perahu milik ayahnya.

Radjak adalah kawan saya sedari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Marisa, Kabupaten Pohuwato.

 Setelah semuanya siap, Radjak tak lupa membawa alat pancingnya.  Meski tujuan kami bukan memancing, hanya ingin bersantai ria, tapi naluri seorang nelayan dan alat pancingnya seperti memiliki senyawa yang tak bisa dipisahkan.

 “Membawa alat pancing itu sudah kewajiban, dan pasti dia selalu ada di perahu. Karena keseharian  seorang nelayan; jadi alat pancing adalah kebutuhan utama yang harus ada dalam perahu ketika bepergian melintasi lautan, terutama Papa (Ayah),” jelas Radjak yang mulai menaikkan jangkar ke atas perahu, dan mulai menyalakan mesin ketinting.

Langit masih bersahabat adanya, kami mulai bergegas beranjak dari tambatan perahu sebelumnya berada. Angin sore yang tak begitu kencang mengantarkan kepergian kami, bermodalkan mesin ketinting yang kami pakai, perahu itu kemudian melaju, menabrak setiap ombak yang datang serta memecahnya dengan ujung perahu.

Air laut yang  tak begitu tenang memantulkan cahaya matahari di mana-mana, dari kejauhan seperti perak yang sedang terambang.

Gumpalan awan hitam yang berarak pada sore itu pun, perlahan bergerak dari arah Selatan menuju perahu kami, awan itu kemudian menjadi pelindung dari panasnya terik matahari. Saya cukup sadar, matahari di saat seperti ini tak boleh diajak bersahabat.

Radjak mulai menambah kecepatan, suara ketinting mulai bising ditelinga saya. Hanya suara ombak yang sesekali menabrak bagian perahu yang terdengar.  saya, tetap berada pada posisi yang aman, duduk paling tengah; tapi terkadang juga paling depan, di ujung perahu. Sedangkan Radjak bertugas mengendalikan kemudi perahu duduk santai di belakang;  berdekatan dengan mesin serta dengan sebatang rokok kreteknya yang hampir basah di tangan kanan. Di saat yang bersamaan, perahu kami terus melaju.

Dalam perjalanan ke pulau Lahe, mata saya tak berhenti berkedip, sajian panorama laut yang indah, juga gugusan pulau yang berada di samping kanan-kiri selama perjalanan tak kalah menariknya. Kata Radjak, pada saat tertentu juga, ada banyak lumba-lumba yang berenang yang bisa ditemui. Tapi sayang, hari ini bukanlah waktu yang tepat itu.

Sudah 30 menit perahu kami mengarungi lautan, pulau Lahe sudah jelas di depan mata, sudah saatnya berlabuh.

Dermaga yang baru saja dipugar oleh pemerintah daerah Pohuwato seakan sedang menunggu dan menyambut kedatangan kami. Maklum, pada saat itu, kunjungan ke pulau Lahe sangat kurang, arus lalu lintas perahu juga tak begitu ramai, hanya tiga perahu yang ada; terhitung dengan perahu kami yang tertambat di dermaga.

Meskipun kurang kunjungan, ada keuntungan tersendiri saat keadaan pulau Lahe sepi seperti ini, ia bisa menjadi tempat paling nyaman untuk sekadar bersantai ria.

Imbauan Untuk Pengunjung Tidak Membuang Sampah di Lokasi Wisata. (Foto: Zul)

Pulau Lahe sebagai Ikon Pariwisata

“Dermaga ini baru saja diperbaiki Pemda, di dekat pijakan itu airnya sudah dalam. Kedalamanya kurang lebih 5 meter, di bawahnya juga ada apartemen fish; banyak ikan-ikan dan terumbu karang yang masih terawat di bawah itu,” kata Radjak sambil mengikatkan tali perahu pada tambatannya.

Kata Radjak juga, tempat itu menjadi tempat favorit para penyelam saat berkunjung ke tempat ini.

“Banyak sekali para penyelam yang saya antar ke Pulau Lahe hanya untuk mencari spot diving, dan kebanyak dari mereka memilih spot di bawah dermaga itu.”

Mendengar kata Radjak tersebut, saya  menuju dermaga tersebut. Melihat kedalamannya, tapi sayang tak begitu jelas, pun jika ingin terjun ke dalamnya saya tak berbekal alat apapun, saya tak sehebat orang-orang Bajau (Bajo) yang bisa  bernafas lebih lama saat berada dalam air, mereka dikenal sebagai manusia yang punya kemampuan menyelam lebih lama.

Saya hanya membayangkan saja, bagaimana ke depannya pulau Lahe ini akan masif dikunjungi oleh para wisatawan, dan menjadi  objek jualan pariwisata yang ada di Pohuwato. Apalagi berbekal dengan pemandangan alam bawah lautnya yang menjanjikan, pulau Lahe punya peluang  menjadi ikon pariwisata yang ada di Pohuwato. Tapi, jika bayangan saya kemudian menjadi kenyataan, patutlah pemerintah juga memperhatikan keanekaragamanhayati (Kehati) yang ada di dalamnya.

Karena beberapa nelayan yang pernah saya temui, mereka sering menyebut pulau Lahe menjadi tempat peristirahatan mereka di kala badai dan hujan lebat mengguyur. Para nelayan itu sering melihat burung endemik Sulawesi (Maleo) dengan nama latin marcochepalon ini sering berwara-wiri di sekitar pulau tersebut, begitu juga dengan beberapa penyu yang memilih pulau Lahe sebagai tempat paling aman dari predator untuk bertelur.

“Maleo sering ada di sini, banyak memang nelayan yang ketika istirahat sering melihatnya. Apalagi penyu, sering kali bertelur dan anakannya; tukik, sering  ditemukan oleh nelayan atau pengunjung,” seru Radjak sembari menikmati semilir angin di pinggir pantai yang menyejukan.

Wisatawan Saat Bermeditasi dengan Alam di Pulau Lahe. (Foto: Zul)

Tantangan Ekologi dan Kehidupan Satwa di Pulau Lahe

Jika pulau Lahe nantinya dilirik sebagai jualan pariwisata adalah yang wajar, ia akan menjadi tidak wajar jika mengabaikan seluruh Kehati  yang ada di dalamnya, baik dari kehidupan alam bawah lautnya, serta kehidupan satwa lainnya; Maleo dan Penyu, yang sering berkunjung di pulau Lahe tersebut.

Sisi ekologi juga sangat perlu diperhatikan untuk menyeimbangkan  antara jualan pariwisata dan kehidupan satwa yang ada sebagai kekayaan lain dari pulau Lahe. Tapi saat berbincang-bincang mengenai pulau Lahe sebagai ikon pariwisata nantinya, Radjak tak begitu berharap banyak.

Pulau Lahe hanya bisa dilihat keindahan bawah lautnya dan keberadaan pasir-pasir putih di sekitaran pantai, selebihnya mengenai penyu dan tukik hanya bisa ditemui pada waktu tertentu saja; saat waktu penyu bertelur. Dan untuk Maleo hewan endemik Sulawesi itu sangat sulit ditemui untuk saat ini, bahkan tidak sama sekali.

“Keramaian pulau Lahe mungkin salah satu penyebabnya tak terlihat di pulau lagi, juga terkadang ada masyarakat yang nakal memburu burung Panua (sebutan orang Pohuwato terhadap Maleo) tersebut,” kata Radjak kepada saya.

Hari tampaknya makin sore, matahari mulai merangkak turun. Saya melihat Radjak dengan semangatnya mandi, dia melambaikan tangannya, memberi tanda agar saya turut mandi. Saya membalasnya dengan anggukan kepala, pertanda saya segera menyusul.

Saat memilih menceburkan diri ke air laut, saya terus mengamati Radjak. Hanya sesekali menceburkan kepala ke bawah, berharap bisa melihat apa yang ada di sana, tapi nyatanya mata saya kelilipan, merah, tak dilengkapi dengan kacamata; berbeda dengan Radjak.

“Saya dapat, akhirnya dapat juga,” sahut Radjak dengan riang.

“Apa itu?,” tanya saya.

“Ini ikan badut yang sering jadi tangkapan orang-orang kalau bermain ke sini, selain ikan, ada juga bintang laut, tapi sangat jarang diminati,” jawabnya.

Selain apartemen fish, menangkap ikan badut menjadi hal yang menarik saat berkunjung ke pulau Lahe. Tak hanya menjadi tempat paling nyaman untuk bersantai ria sambil merasakan anginnya yang sejuk saat melipir, tapi pulau Lahe juga bisa menjadi tempat liburan yang sangat menyenangkan tentunya.

Hal-hal yang menyenangkan seperti mengunjungi pulau Lahe ini tentu dapat mengurangi beban pikiran dan memberikan energi positif baru bagi saya, juga mungkin bagi para wisatawan yang berkunjung nantinya.

Mengunjungi pulau Lahe rasanya seperti bersantai di Pulo Cinta, Boalemo atau Pulau Saronde, Gorontalo Utara. Bedanya, pulau Lahe belum dikelola secara profesional saja,  tapi jika kelak telah jadi ikon pariwisata juga, kekhawatiran akan Kehati yang di dalamnya harus juga dipikirkan.

Hal-hal mengenai ekologi dan Kehati yang ada di pulau Lahe dan sekitarnya juga turut diperhatikan. Agar tak hanya memikirkan sisi jualan pariwisatanya, tapi juga keseimbangan ekosistemnya.

Matahari terus merangkak di ufuk Barat, memberi tanda ia telah selesai dari peraduannya, serta sinar jingganya yang mulai berpendar harus rela ditutupi awan. Radjak untuk kedua kalinya mengayunkan tangan kepada saya, pertanda hari mulai malam dan saatnya bergegas untuk pulang; kembali ke daratan meninggalkan lautan. Di saat perjalanan pulang itulah, saya kemudian teringat dengan sebuah semboyan, “Jalesveva jayamahe” yang artinya ‘di lautan kita berjaya’. ****(Alam Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *