Alam.Id- Wilayah perairan Gorontalo begitu diberkahi dengan sejuta kekayaan alam bawah lautnya. Terletak di perairan Teluk Tomini yang merupakan perairan dalam, membuat perairan Gorontalo sangat akrab dengan keberadaan ikan-ikan besar. Seperti keberadaan ikan besar whale shark atau orang lokal menyebutnya munggiyango hulalo (Hiu Paus).

Jika di tanya kepada masyarakat Desa Botubarani tentang hiu paus tersebut, mereka tak akan begitu heran, malah mereka akan menjawab whale shark itu merupakan teman bermain anak-anak sekitar.

Kemunculan hiu paus sendiri sebenarnya sudah lama ada di perairan  Botubarani. Namun, pada tahun 2016 keberadaan hiu paus ini mulai dikenal secara luas oleh orang banyak, dan telah ditetapkan serta dikelola menjadi objek wisata dengan konsep ekowisata oleh masyarakat sekitar.

Semenjak kepopuleran pada tahun 2016 itu, wisata hiu paus kini mulai dikenal secara luas oleh semua kalangan, terutama wisatawan. Baik dari wisatawan lokal, domestik, dan luar negeri.

Hiu Paus dengan nama latin Rhincondom Typus ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata yang ada di Gorontalo. Selain objek wisata yang telah dikenal, seperti: Pulau Saronde, Pulo Cinta, dan objek wisata kesejarahan; benteng Otanaha.

Pasalnya, kesempatan untuk mengunjungi serta melihat lebih dekat hewan langka dan dilindungi tersebut merupakan impian wisatawan, apalagi wisatawan yang datang dari mancanegara yang secara khusus hanya mau melihat whale shark. Kesempatan berharga itu hanya bisa dirasakan oleh wisatawan saat berkunjung ke daerah Gorontalo.

Untuk berkunjung ke wisata whale shark ini, para wisatawan hanya membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit dari pusat Kota Gorontalo. Dengan biaya masuk sebesar Rp80 ribu, wisatawan sudah bisa meilhat hiu paus tersebut secara dekat menggunakan perahu, plus udang untuk pakan serta didampingi pemandu lokal.

Berbeda dengan wisata hiu paus di tempat lain, wisatawan domestik sampai mancanegara pun tak perlu mengeluarkan biaya yang begitu mahal,  biaya masuk untuk wisata hiu paus Botubarani ini dijamin sangat bersahabat bagi kantong wisatawan.

Selain bisa menyewa perahu, pengunjung dan wisatawan juga bisa menyewa alat snorkling seharga Rp35 ribu dan untuk wisatawan yang ingin lebih dekat menjamah whale shark bisa menyewa alat diving dengan kisaran harga sewa sekitar Rp90 ribu – Rp100 ribu.

Serta di temani pemandu lokal yang nantinya akan membantu wisatawan untuk berada begitu dekat dengan munggiyango hulalo tersebut.

Arpan Napu (57) selaku pemandu Wisata Hiu Puas Botubarani menuturkan, keberadaan munggiyango hulalo atau hiu paus ini sudah lama ada di perairan Botubarani, tapi tidak seramai sekarang, karena sumber makananlah yang membuat para hiu paus tersebut mendekat dan dijadikan sebagai objek wisata.

 “Hiu Paus ini sudah lama ada. Tapi mulai populer di tahun 2016 kemarin. Mereka datang ke tempat ini karena sumber makanannya, yaitu limbah kepala udang sisa dari produksi pabrik udang yang ada di sini,” kata Arpan saat temui oleh Alam.id.

Arpan juga mengatakan, pengelolaan wisata hiu paus dikelola langsung oleh masyarakat. Dari segi tata pengelolaan lokasi wisata, hingga penyediaan sumber makanan secara swadaya saat pabrik udang sudah berhenti beroperasi.

“Makanan dari hiu puas ini ialah plankton, ikan-ikan kecil, termasuk udang juga. Makanya kami juga harus menjaga sumber makanan dari hiu paus. Dan sesuai aturan yang ada, udang yang dipakai untuk menjadi pakan adalah udang yang telah sediakan oleh pengelola, tidak menggunakan udang yang dibawa pengunjung atau wisatawan dari luar, karena takutnya mengandung racun atau bahan berbahaya lainnya. Karena hewan ini merupakan hewan yang dilindungi, maka bila terjadi apa-apa, kami juga yang akan bertanggung,” tambah Arpan sembari mendayung perahu-nya mendekat ke arah hiu paus berada.

Kata Arpan juga, keberadaan Whale shark sendiri selain mendatangkan kunjungan wisatawan yang tinggi, juga dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar.

“Semenjak wisata hiu paus mulai dipopulerkan, masyarakat sekitar mulai sadar wisata, juga sadar akan pengelolaan lingkungannya; dari menjaga sampah yang tidak dibuang sembarangan dan juga menjaga lokasi wisata agar selalu bersih”.

Sejumlah wisatawan sedang memberi makan hiu paus dari atas perahu nelayan. (Foto: Donald Wahani)

Melihat Harapan Masyarakat Botubarani

Pada tahun-tahun sebelum wisata hiu paus populer, masyarakat Desa Botubarani tidak begitu memerdulikan keberadaan whale shark ini di perairan Gorontalo, khususnya di Desa Botubarani.

Keberadaan hiu paus sendiri sebelum dikenal secara luas, hiu paus hanya dianggap masyarakat sekitar sebagai teman bermain anak-anak saat mereka mandi dan bermain di laut. Serta ada sebagian masyarakat juga yang menganggap, hiu paus yang sering menampakkan dirinya di perairan Botubarani hanyalah binatang besar yang tidak ada manfaatnya.

Padahal jika dilihat secara saksama, hiu paus tersebut merupakan hewan yang langka dan dilindungi, yang dapat menunjang perekonomian masyarakat melalui pengelolaannya secara ekowisata.

Donald Wahani pelaku wisata bahari mengatakan, keberadaan hiu paus di Botubarani merupakan hal yang wajar, karena keberadaan laut Gorontalo berada di perairan teluk tomini, akan tetapi hiu paus tidak satu tempat seperti yang terjadi pada tahun 2016 tersebut.

Keberadaan pabrik udang yang ada di lokasi sekitar menjadi daya tarik hiu paus mendekat, karena keberadaan hiu paus ini bergantung pada sumber makanannya. Jika makanannya tidak ada, maka kemungkinan besar hiu paus juga jarang terlihat.

“Salah satu sebab datangnya hiu paus karena pabrik udang yang menjadi sumber makanannya, dan juga pada musim tertentu jumlah plankton di tempat tersebut selalu meningkat.Tapi, ada masalah yang sekarang dihadapi hiu paus itu, pabrik udang berhenti beroperasi. Semenjak itu pabrik berhenti, hanya masyarakat lah yang sekarang menjaga keberadaan hiu paus dengan menyediakan makanannya secara swadaya; membeli udang dari pasar,” kata Donald saat diwawancarai tim Alam.id melalui telepon, Kamis (6/02/2020).

Donald juga menuturkan, bahwa keberadaan sumber makanan lah yang seharusnya diutamakan dalam pengelolaan wisata hiu paus. Karena menurutnya, tak akan berguna semua fasilitas wisata diperbaiki tapi sumber makanan tak begitu diperhatikan. Yang ada hanya sia-sia.

“Sangat perlu saya rasa dalam menjaga sumber makanan dari hiu paus ini. Kita mencontoh seperti yang ada di Papua misalnya, sumber makanan sangat diperhatikan. Jadi keberadaan hiu paus terus ada, karena sumber makanannya ada, kalau yang di Gorontalo masih di tangani oleh masyarakat secara swadaya.”

“Sampai dengan saat ini belum ada jalan keluarnya soal keberlangsungan sumber makanan hiu paus itu. Karena hanya bergantung pada pabrik udang, setelah pabrik berhenti beroperasi, ketersediaan udang hanya bergantung di pasar,” tambah Donald.

Donald juga mengungkapkan, masalah sumber makanan juga harus di sikapi oleh masyarakat terutama pengelola wisata. Dengan mengedepankan pengelolaan wisata hiu paus untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. “Masyarakat di situ pernah mengusulkan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk pembuatan rumpon, tempat bermainnya ikan kecil untuk dijadikan sumber makanan hiu paus, tapi tidak ada balasan.”

Mendengar masalah sumber makanan hiu paus yang tak kunjung mendapatkan solusinya, menurut Donald, ada beberapa orang yang mau membantu menyediakan rumpon sesuai usulan masyarakat tersebut. tapi karena konflik sosial yang terjadi antar kelompok pengelola wisata di situ yang memperlambat bahkan untuk sementara waktu ditunda bantuan rumpon tersebut.

“Jika beberapa kelompok menghilangkan keegoisan untuk pengelolaan bantuan rumpon tersebut, maka solusi untuk ketersediaan makan bagi hiu paus sudah terpecahkan. Makanya untuk sementara waktu bantuan itu masih di pending dulu oleh beberapa orang yang ingin membantu.”

Salim Latif selaku pengelola wisata hiu paus di Botubarani juga mengatakan hal yang sama, bahwa sumber makanan menjadi masalah juga. Karena pabrik udang sudah tidak lagi beroperasi, jadi masyarakat lah yang menyediakan sumber makanannya.

“Kami menyadari dengan keberadaan hiu paus ini juga dapat memberikan dampak bagi sisi perekonomian masyarakat sekitar. Terutama bagi nelayan yang tidak melaut, dan menjadi pemandu bagi wisatawan,” ujar salim saat diwawancarai pada Selasa, (4/2/2020).

Salim juga mengatakan, selalu memberikan keluhan kepada pihak Pemerintah Provinsi soal ketersediaan makanan bagi hiu paus tersebut setelah pabrik udang berhenti beroperasi. Serta mengusulkan pengadaan tempat makanan hiu paus, semacam rakit yang di tambahkan lampu penerang, agar ikan kecil-kecil datang dan berkumpul; itu bisa jadi makanan buat hiu paus.

“Tahun 2019 kemarin kami pernah mengusulkan, tapi belum ada respon dari pihak pemerintah. Makanya sampai dengan sekarang kami bertahan dengan membeli udang dari pasar untuk menjaga sumber makanan dari whale shark itu.”

Kata Salim juga, dulu saat wisata hiu paus belum dikenal, ekonomi masyarakat di sekitar begitu-begitu saja, tapi setelah berkembangnya menjadi wisata, ekonomi warga cukup membaik.

“Kami punya harapan ke depan wisata hiu paus ini terus berjalan dengan  keberadaan hiu paus yang terus ada, meskipun untuk masalah sumber makanannya belum bisa dipecahkan. Dan tentunya harapan besar kami ke depan adalah pengelolaan wisata hiu paus ini dikelola oleh masyarakat seutuhnya, meskipun ada andil dari pihak pemerintah, tapi tidak sepenuhnya mengambil alih,” imbuh Salim di akhir wawancara dengan raut wajah yang penuh harap.****(Alam Indonesia)

1 thought on “Mengunjungi Wisata Hiu Paus, Melihat Harapan Masyarakat Botubarani”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *