Alam.Id- Torosiaje adalah sebuah perkampungan masyarakat Bajo (Bajau) yang terletak di bagian barat Gorontalo; Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato.

Desa yang dihuni oleh mayoritas warga Bajo ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 1445 jiwa dan dihuni oleh kurang lebih 421 Kepala Keluarga (KK). Lokasi Torosiaje sendiri berada di atas laut perairan Teluk Tomini, serta berjarak 600 meter dari daratan. Dan  perahu merupakan satu-satunya moda angkutan bagi warga Bajo Torosiaje.

Jarak yang dibutuhkan untuk sampai ke Torosiaje ini cukup menyita waktu dan terbilang jauh. Dari Kabupaten Pohuwato sendiri menuju Desa Torosiaje berkisar 72 Km dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 2 jam.

Namun kondisi jalanan yang cukup baik juga mendukung perjalanan ke Torosiaje sangat menyenangkan. Sambil melirik kiri-kanan lanskap alam Pohuwato yang dilalui sepanjang jalan.

Desa Torosiaje dikenal dengan objek wisatanya, yakni, sebuah perkampungan orang Bajau yang membangun rumah-rumah kediaman mereka di atas laut. Warga Bajau Torosiaje memilih membangun rumah di atas laut tersebut karena kehidupan sehari-hari mereka yang tak lepas dengan laut, karena laut bagi orang Bajo merupakan sumber kehidupan. Juga tak sedikit yang masih memilih tinggal di atas perahu meskipun hanya beberapa orang saja; seperti halnya kehidupan orang Bajau terdahulu.

Mulai terkenalnya Torosiaje sebagai wisata semenjak wilayah Kabupaten Pohuwato menjadi wilayah pemekaran dari Kabupaten Boalemo. Dan secara beriringan, progres pemerintah daerah Pohuwato yang telah memiliki wilayah administratif sebagai kabupaten mulai menggalakkan potensi wisata yang ada, salah satunya ‘wisata perkampungan Bajau Torosiaje’ yang kini telah dikenal luas; bukan hanya skala domestik bahkan mancanegara.

Populernya Torosiaje sebagai tempat destinasi wisata yang terletak di Pohuwato, bukan hanya menarik wisatawan berbondong-bondong mengunjungi tempat itu, tapi juga menarik banyak simpati para peneliti, akademisi, untuk melakukan penelitian. Hal yang paling banyak diulas mengenai bagaimana masyarakat Bajau bertahan dan memilih hidup di atas laut, dan mulai meninggalkan rumah mereka sebelumnya; perahu, serta melihat bagaimana ekonomi, kehidupan sosial, dan budaya berjalan seiringan setelah masyarakat Bajau memilih tinggal di atas laut yang notabennya terletak di perairan Teluk Tomini.

Selain menawarkan pemandangan dan rumah-rumah orang Torosiaje yang saling terhubung antara satu dan lainnya, Torosiaje juga banyak menyimpan banyak hal mengenai kebudayaan mereka, dan setiap folklor yang masih berkembang secara turun-temurun hingga saat ini.

Semisal folklor tentang ‘Sengkang’ orang Bajo yang terbiasa hidup di dalam air; perairan sekitar Torosiaje, yang masih terus berkembang di masyarakat Torosiaje dan jika di tanya mengenai ‘Sengkang’ tadi, dari anak-anak sampai orang dewasa pasti akan memberikan jawaban serupa. Bahwa ada orang Bajo yang tinggal di dalam air sampai akhir hayatnya, dan orang itu adalah ‘Sengkang’.

Nelayan Bajau Berada di atas Perahu: (Foto; Zul)

Orang Bajau, Perahu, dan Torosiaje

Perahu dan laut merupakan hal yang tidak terpisahkan bagi orang Bajau. Bagi mereka perahu merupakan rumah pertama sebelum mengenal struktur dan bangunan rumah pada umumnya.

Bagi orang Bajau sendiri, selain menjadi rumah, perahu juga dijadikan sebagai moda transportasi. Perahu merupakan hal yang wajib dimiliki oleh orang Bajau, apalagi mereka yang telah memilih tinggal di perkampungan Torosiaje laut yang mengharuskan memiliki perahu sebagai transportasi keseharian.

Jika pada pada umumnya motor dan mobil dijadikan sebagai moda transportasi darat, berbeda dengan di Torosiaje; perahu satu-satunya penghuni tunggal yang tak ada saingannya dalam hal transportasi menuju wisata perkampungan Torosiaje.

Berjarak sekitar 600 meter dari daratan tentunya perahu merupakan satu-satunya transportasi untuk menjangkau keberadaan perkampungan tersebut. Perahu berfungsi sebagai tranportasi, dan tentunya ada tarif yang dikenakan, tarif tersebut sesuai penetapan yang telah disepakati dan disetujui oleh warga sekitar dan pemerintah desa setempat.

Jika menilik sejarah Desa Torosiaje secara singkat, desa ini pertama kali didirikan pada tahun 1901. Yang menurut kebanyakan orang Bajau yang telah bermukim, ialah Pata Sompa; orang Bajo yang pertama kali tinggal dan bermukim di daerah ini, yang kemudian di jadikan sebagai Desa Torosiaje. Torosiaje sendiri sarat akan arti dan makna bagi orang Bajo.

Umar Pasandre selaku tokoh masyarakat di Torosiaje mengatakan, Torosiaje ditemukan pertama kali oleh Pata Sompa, dan ia menjadi orang Bajau pertama tinggal dan menemukan daerah ini.

“Torosiaje ini merupakan pengertian dari ‘Tara’ atau ‘Toro’ yang dalam artian adalah tanjung/teluk, dan ‘si aje’ atau ‘si aji’ yang berarti orang yang menemukan dan tinggal pertama kali. Itu merujuk pada Pata Sompa yang menjadi orang pertama di kampung ini,” kata Umar sambil memperkenalkan wisata Torosiaje kepada Alam.id.

Kata Umar, dari awal ditemukannya Torosiaje ini, migrasi orang Bajo mulai berdatangan dan memilih menetap di kawasan ini. Dan karena mulai padat, beberapa warga Bajau yang tinggal di atas laut pindah ke daratan yang hanya berjarak sekitar 600 meter dari perkampungan Bajo di atas laut tersebut.

“Saya juga pertama tinggal di Torosiaje laut, tapi sekarang pilih tinggal di daratan. Alasannya karena mulai padat, tapi meskipun sudah di darat pekerjaan utama saya tetaplah nelayan sama seperti orang Bajo pada umumnya. Hanya tempat tinggal saja yang beda, tapi nafas sebagai orang Bajo masi tetap ada,” tambah Umar.

Foto: Zul

Senja di Torosiaje

Saat berada di Torosiaje yang harus dipastikan adalah persoalan waktu. Karena waktu yang lama juga dapat memberikan kesan yang baik pula, tapi jika hanya memiliki waktu yang sedikit, rasanya tak akan afdal jika sudah berada di wisata Bajau Torosiaje ini.

Waktu berkunjung ke Torosiaje sendiri akan terasa begitu cepat, karena setiap mata pengunjung atau wisatawan akan teralihkan dengan keseharian warga Bajau yang berada di Torosiaje, serta menyaksikan aktivitas warga Bajo yang selalu dekat dengan laut dan perahu.

Wisata Torosiaje sendiri selain menawarkan keramahan warganya, juga menyajikan panorama alam yang tak kalah indahnya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di dermaga, wisatawan akan di suguhi dengan pemandangan rumah-rumah orang Bajo yang berdiri kokoh di atas permukaan air laut yang dangkal, serta beberapa panorama seperti hutan bakau yang tumbuh subur yang dijaga dan dirawat oleh masyarakat Bajo juga merupakan jualan wisata lainnya.

Selain paparan panorama, kearifan lokal, dan kebiasan orang Bajo dengan perahunya, ada sisi lain yang tak kalah penting dilewatkan ketika berkunjung ke Torosiaje; menyaksikan setiap senja yang mulai bertukar dengan gelapnya malam.

Di setiap sudut bahkan dari balik jendela di setiap rumah di Torosiaje, senja dengan begitu jelas terlihat. Sinar kuning keemasan yang mulai berpendar menusuk masuk dari bilik-bilik dinding yang terbuat dari kayu itu.

Sensasi merasakan hangatnya saat melepas petang dari sudut manapun begitu terasa saat berada di Torosiaje. Tentunya pengalaman ini tak bisa dibayar dengan apapun.

Tak heran jika Torosiaje banyak dikunjungi wisatawan bukan sekadar penghibur atau penghilang rasa penat akibat terbebani pekerjaan di akhir pekan, tetapi lebih dari itu, wisatawan ingin merasakan sejuknya perkampungan warga Bajau Torosiaje, senyum dan keramahan setiap warganya. Serta kebudayaan orang Bajau yang tidak diketahui oleh banyak orang, akan dengan mudah dan nyata ditemui di wisata Torosiaje, pun ditemani setiap pendar sinar senja yang mulai hilang di peraduannya.****(Alam Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *