Alam.Id – Perahu-perahu terparkir rapi sekitar 15 meter dari bibir pantai menghadap lautan. Panas matahari begitu terasa di hari Minggu 5 Juli 2020, meski jarum jam telah menunjuk angka 15.00. Tiupan angin dari arah selatan menciptakan ombak-ombak kecil yang menyapa daratan.

Seorang pria paruh baya terlihat sedang bercengkrama dengan keluarganya di sebuah teras belakang rumah. Namanya Olis Latif, warga Desa Botubarani. Ia hanyalah salah satu dari puluhan nelayan setempat yang memperoleh pendapatan tambahan dengan adanya wisata hius paus.

Wisata hiu paus berada di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Memang, beberapa tahun terakhir telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam dan luar negeri, terutama lokal Gorontalo. Aksesnya pun tak butuh waktu lama dari pusat kota: sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor atau mobil.

Sejak tahun 2016 silam lokasi ini ramai diburu oleh pengunjung. Adapun untuk menikmati tempat wisata ini dengan cara menggunakan perahu yang disewa dari masyarakat setempat. Lalu hanya sedikit mendayung sekitar 20 meter dari pinggir pantai, akan tiba di spot hiu paus.

Cara memanggil hiu paus cukup sederhana hanya tinggal mengetuk-ngetuk perahu. Setelah muncul, lalu diberikan makanan berupa iken nike atau teri yang dibayar dari pihak pengelola wisata. Pengujung hanya diberi waktu 30 menit dengan ongkos Rp85 ribu, sedang batas maksimal yang naik dalam seperahu ialah 3 orang.

Kehadiran salah satu spesies ikan terbesar di perairan Botubarani itu kemudian dimanfaatkan pemerintah dan masyarakat sebagai wisata alam. Tak pelak dengan adanya hiu paus di wilayah itu, turut menggerakkan aktivitas ekonomi. Namun setelah pandemi virus corona mulai melanda Indonesia, sejak saat itu pula bisnis pariwisata seakan memberi jeda bagi pengunjung untuk melihat langsung uniknya hius paus di perairan Botubarani.

Kasus positif pertama Covid-19 di Gorontalo diumumkan pada 9 April 2020. Tidak berselang lama, kemudian pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) demi memutus penyebaran virus corona. Kondisi ini pun berdampak signifikan dari sisi pendapatan: baik dalam pengelolaan wisata hiu paus maupun masyarakat nelayan setempat.

“Semenjak ada virus corona, tidak ada lagi pengunjung yang datang berwisata di sini,” kata Olis.

Wisatawan sedang berenang dengan Hiu Paus (Whale Shark). Foto: Dokumen Melvina Hulopi

Kemunculan Hiu Paus di Botubarani

Menurut penelitian Kris Handoko, R. Andry Indryasworo, Sukmaputro, Mahardika R. Himawan dan Casandra Tania dengan judul: “Pola Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus) di perairan Botubarani, Gorontalo 2018” menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan pada bulan November 2016, Mei 2017, November 2017 dan Mei 2018 ditemukan 21 individu hiu paus yang muncul di perairan Botubarani.t

Metode pemantauan yang digunakan adalah (1) dengan menggunakan ID foto untuk membedakan antar jenis individu hiu paus, (2) pemantauan dengan cara melihat langsung/visual kemudian direkam kemunculan hiu paus yang ditulis dalam sistem kalender musim dan (3) menggunakan teknologi berbasis akustik dengan menerima 2 unit penerima sinyal akustik pada kedalaman 15 meter dan memasang 10 penanda pemancar sinyal akustik pada hiu paus.

Sementara pola tinggal dari individu yang dipasang tag pemancar akustik diperoleh hiu paus lebih dari 3,5 meter dan tinggal rata-rata 10 hari di perairan Botubarani. Sedangkan yang berjarak kurang dari 3,5 meter, tinggal sekitar 1-7 hari.

Berdasarakan informasi kalender musim, diakui bahwa hiu paus berada di pantai Botubarani dibahas di zona interaksi pada bulan November 2016 selama 17 hari. Sementara pada bulan Desember 2016, tidak ada satu ekor pun dari hiu paus yang muncul di pantai Botubarani.

Selanjutnya pada bulan Januari 2017 terlihat dua hari hiu paus muncul, Februari 2017 muncul selama 14 hari, Maret 2017 muncul 8 hari, April 2017 tidak ada sama sekali hiu paus yang muncul. Lalu pada bulan Mei 2017 hiu paus muncul 21 hari, Juni 2017 muncul 21 hari, Juli 2018 muncul 2 hari, sedangkan bulan Agustus hingga November 2017 tidak ada kemunculan hiu paus. Total kemunculan hiu paus di pantai Botubarani adalah 111 hari dari 561 hari pengamatan atau sekitar 19,78 persen.

Penelitian itu menuliskan, perairan Botubarani Provinsi Gorontalo adalah sebuah kawasan yang menurut nelayan setempat, bahwa kemunculan hiu paus terutama saat mereka sedang menjaring ikan nike. Sementara dugaan lain menyebutkan, aktivitas hiu paus di daerah itu merupakan akibat dari pemberian makan secara sengaja berupa kepala dan kulit udang; baik melalui aktivitas wisata maupun buangan limbah kulit udang dari perusahaan pengolahan udang di wilayah itu.

Foto: Melvina Hulopi

Promosi Wisata di Tengah New Normal

Memang kehadiran pandemi Covid-19 berdampak buruk pada sisi ekonomi, tak terkecuali bisnis pariwisata juga mendapatkan imbas dari virus impor itu. Alhasil, dengan keadaan pelik tersebut mengharuskan pemerintah untuk melahirkan berbagai skenario demi menekan penyebaran virus corona, mulai dari diterapkannya PSBB hingga kebijakan new normal.

Melvina Hulopi yang turut membantu mempromosikan wisata hiu paus mengungkapkan, di tengah keberadaan virus corona mengakibatkan alpanya pengunjung untuk berwisata, dengan ketidakhadiran mereka itu, mengharuskan pihak pengelola wisata untuk tetap berupaya memberi makan hiu paus dengan sejenis ikan nike dan teri meskipun harus merogoh kantong pribadi.

“Saat pandemi ini wisata hiu paus juga terkena dampaknya terutama dari sisi pengelolaan. Dengan tidak adanya pengunjung yang datang mengakibatkan turunnya pendapatan pihak pengelola,” ujar Melvina.

Namun, kata Melvina, ketika pihak pemerintah Provinsi Gorontalo sudah mulai menerapkan skenario new normal dan memberhentikan kebijakan PSBB yang hingga tiga tahap itu, menjadi kabar gembira bagi pelaku wisata. Sebab, secara perlahan-lahan para pengunjung sudah mulai datang untuk berlibur.

“Dalam fase new normal ini para pengunjung harus mematuhi protokol kesehatan seperti anjuran Dinas Pariwisata Bone Bolango. Mulai dari memakai masker, dan menjaga jarak. Selain itu, khusus wisatawan diimbau untuk tidak menyentuh hiu paus dan tentu menjaga kebersihan pantai dengan tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Runner Up Nou Bone Bolango tahun 2007 itu.

Saat ini, Melvina juga berprofesi sebagai pramugari di Sriwijaya Air. Ia mengaku begitu tertarik membantu mempromosikan wisata hiu paus karena tidak semua wilayah di Indonesia mempunyai keunikan seperti apa yang dimiliki Gorontalo.

“Ini adalah wisata yang unik, di mana bisa berenang bersama dengan hiu paus atau memberi makan mereka secara langsung,” ujar Melvina, seraya berharap ke depan pariwisata Indonesia khususnya Gorontalo lebih terkenal hingga ke seluruh manca negara.****(Alam Indonesia)

Penulis: Apriyanto Rajak

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *