Alam.Id – Bisnis pariwisata perlahan-lahan sudah mulai dibuka di Gorontalo, itu setelah pemerintah provinsi, kabupaten maupun kota menuai kesepakatan untuk memberhentikan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang gunanya menekan angka penyebaran virus corona; lalu menggantinya dengan skenario yang disebut new normal atau normal baru.

Kota Gorontalo kini telah resmi membuka seluruh destinasi wisata, hal itu ditandai dengan launching pembukaan wisata yang digelar di benteng otanaha, pada Minggu (28/6). Pada hari yang sama pula Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, melakukan tuoring ke sejumlah tempat wisata menggunakan kendaraan roda dua Matic NMAX yang ditemani komunitas motor setempat.

Seorang wisatawan sedang berenang di taman laut olele. Foto: Helmi Atupato Tour

Penerapan skenario new normal sendiri memang menjadi udara segar bagi pelaku wisata di Gorontalo, dengan prinsip memberikan kelonggaran aktivitas kepada masyarakat yang tentunya tetap menerapkan protokol kesehatan di tempat wisata. Akan tetapi, problem lain pun muncul perihal mahalnya biaya rapid-tes dan swab-tes yang menurut sebagian mereka kebijakan itu amat kontras dengan target pemerintah yang ingin memulihkan keadaan ekonomi.

Helmi misalnya, ia merupakan salah satu pelaku wisata di Gorontalo. Pria yang telah menggeluti pekerjaannya selama 5 tahun itu mengaku bingung, satu sisi kebijakan new normal ini menguntungkan, namun pada hal yang lain justru menjadi pertimbangan bagi wisatawan luar daerah dengan mahalnya rapid-tes ataupun swab-tes. Secara otomatis budget orang yang akan pergi berlibur harus menyisihkan biaya lainnya, seperti syarat keluar-masuk daerah itu.

“Belum lagi kondisi ekonomi yang belum pulih betul, sehingga orang-orang akan cenderung menahan keinginan untuk liburan,” ujar Helmi, Selasa (30/6).

Helmi menceritakan awal mula virus corona mendarat di Indonesia, terutama di Gorontalo maka dengan sendirinya pendapatannya sebagai pelaku usaha di bidang wisata anjlok sebesar 90 persen, sebab semua tempat wisata dengan terpaksa harus ditutup oleh pemerintah demi memutus penyebaran Covid-19.

“Pendapatan saya sebelum ada virus corona bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Itu pun masih jauh dari pendapatan sebelumnya karena adanya kebijakan tiket pesawat yang mahal, jadi ini juga sangat berpengaruh terhadap bisnis saya,” ungkapnya.

Meskipun dalam keadaan serba sulit seperti itu, ia tetap konsisten mempromosikan paket liburan, sembari menginisiasi usaha lain demi menopang bisnis utama dan kebutuhan keluarganya: seperti berjualan ayam ungkep dan handsanitizer.

Destinasi wisata pulau saronde. Foto: Helmi Atupato Tour

Sementara dalam menghadapi skenario new normal Helmi menggunakan strategi atupato tour, yaitu dengan mengedepankan kampanye kesehatan dan keselamatan tanpa mengurangi kenyamanan para wisatawan.

“Kami akan menerapkan standar pelayanan sesuai anjuran gugus tugas dalam penanganan Covid-19, dengan menyediakan handsanitizer, masker, serta cairan disinfektan bagi wisatawan serta dirver menggunakan face shield selama bertugas,” ungkapnya.

Selain itu, kata Helmi, sejak mulai diterapkan fase new normal beberapa bulan terakhir ini sudah ada 6 orang wisatawan dari luar daerah yang berlibur ke Gorontalo. Kebanyakan dari mereka mengunjungi tempat wisata seperti Pulau Cinta, Pulau Saronde, Taman Laut Olele dan Hiu Paus di Botubaran

Helmi sendiri selain sebagai biro perjalanan wisata di Gorontalo, ia pun menyediakan layanan sewa mobil untuk keperluan wisata dan juga menjual merchandise Gorontalo. Sedangkan tempat yang paling favorit dalam menjalankan usahanya itu, seperti Pulau Cinta (Gorontalo); Togean (Sulawesi Tengah) dan Labengki (Sulawasi Tenggara).

Namun, kata Helmi, saat ini fokus utamanya lebih ke wisatawan lokal Gorontalo yang memiliki keinginan untuk liburan, sebab mereka tidak harus memerlukan mahalnya biaya rapid-tes ataupun swab-tes untuk keluar-masuk daerah.****(Alam Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *