Alam.Id – Mentari tepat di atas kepala. Siang itu, saya mendatangi Hotel Grand Q dengan menggunakan motor matic Mio J. Seperti biasa, saya lengkap dengan memakai masker warna biru yang setiap hari menemani jika sedang keluar rumah. Setiap orang berkendara yang kebetulan berpapasan langsung dengan saya, pasti mereka menggunakan masker.

Setiba di Hotel Grand Q, saya langsung disapa oleh seorang security. Lalu, saya menunjukkan identitas, dan memberi tahu maksud dan tujuan datang di salah satu hotel terbesar di Kota Gorontalo itu. Setelah bercakap-cakap, dia kemudian mempersilahkan saya masuk di ruangan lobi.

“Tunggu sebentar ya, pak. Saya panggilkan bapak manager dulu,” kata pria paruh baya ini, Kamis, 7 Mei 2020.

Namun sebelum masuk di dalam hotel, saya diingatkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Tempat cuci tangan itu, tepat berada di sebelah kiri pintu masuk. Sembari menunggu manager hotel di ruangan lobi, saya memperhatikan hanya ada lima orang yang tetap stay melayani barangkali bila ada tamu yang ingin menginap.

Setelah lima menit menunggu akhirnya saya bertemu dengan manager Hotel Grand Q. Namanya Pak Purwanto Gunawan. Dia menyapa saya begitu ramah. Meskipun nampak raut wajahnya memperlihatkan tidak dalam keadaan bahagia. Saat itu, Purwanto mengenakan baju kerah dan celana jeans lengkap dengan masker warna hitam yang menutup hidung dan mulutnya.

“Sejak 1 April 2020 hotel ini ditutup. Kami yang tetap stay di sini hanya manager, assistant manager dan security,” kata Purwanto.

Manager Hotel Grand Q
Manager Hotel Grand Q, Purwanto Gunawan. (Foto: Apri)

Memang saat itu, suasana sepi menyelimuti Hotel Grand Q. Tidak ada lagi suasana tamu yang keluar masuk untuk melakukan transaksi di front office, di mana merupakan sebuah tempat perjumpaan antara karyawan dan tamu. Tidak ada lagi kegiatan seminar atau rapat apapun yang kerap digelar di ballroom. Mendadak semua berubah sepi setelah adanya pandemi COVID-19. Virus corona ini tidak hanya menjadi momok menakutkan bagi sektor ekonomi. Sektor pariwisata, seperti hotel turut merasakan dampaknya.

Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) seperti dilansir dari Cnbcindonesia.com, menyebutkan sejak awal Mei 2020, sudah ada 2000 hotel yang tutup akibat Covid-19. Jumlah ini terus bertambah signifikan, padahal hingga 13 April 2020 baru ada 1.642 hotel dari 31 Provinsi, akibat virus corona.

Sekjen PHRI, Kosmian Pudjiadi, mengatakan bahwa adanya pandemi corona yang dibarengi dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia, sangat berpengaruh pada bisnis hotel.

“Kita tidak bisa lakukan apa-apa, consumer kita tidak boleh datang karena ada PSBB, itu masalahnya,” kata dia, Senin (4/5).

Sementara itu, untuk pemberlakuan PSBB di Provinsi Gorontalo mulai 4 Mei 2020, akan tetapi baru efektif pada 7 Mei 2020. Sebab, waktu tiga hari itu dilakukan tahapan sosialisasi kepada masyarakat. PSBB sendiri telah diteken melalui Surat Keputusan Gubernur Gorontalo No 152/33/V/2020 dan Peraturan Gubernur No 15 Tahun 2020.

Lobby Hotel
Suasana Restoran di Hotel Grand Q. (Foto: Apri)

Karyawan adalah Aset

Sudah 13 tahun Purwanto Gunawan menjadi karyawan di Hotel Grand Q. Namun, kata dia, tidak pernah sebelumnya mengalamai situasi sulit seperti sekarang. Purwanto mengungkapkan, akibat pandemi virus corona banyak karyawan hotel yang kemudian harus di rumahkan. Kebijakan tersebut dengan terpaksa dilakukan, mengingat sudah tidak ada lagi tamu yang menginap. Tentu, hal ini berdampak signifikan menurunnya pendapatan bisnis hotel.

“Sebelum ada virus ini, pendapatan hotel satu hari itu bisa mencapai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Namun sekarang, mendapatkan Rp 1 juta sudah sangat susah,” ujar Purwanto.

Front Office Hotel
Suasan Pelayanan Hotel Grand Q. (Foto: Apri)

Sejak tahun 2005 Hotel Grand Q mulai beroperasi di Gorontalo. Saat ini, salah satu hotel berbintang pertama itu memiliki 127 kamar, 6 ruangan untuk acara dan mempunyai 90 karyawan. Sementara itu, kata Purwanto, karyawan yang sedang di rumahkan saat ini tidak menerima gaji ataupun berupa tunjangan lainnya. Ini juga berlaku bagi manager dan assistant manager, meskipun mereka yang tetap bekerja di hotel di tengah pandemi.

“Ini adalah risiko dari suatu perusahaan. Ini kan kasus nasional, bahkan dunia. Dalam hal ini karyawan adalah aset. Mereka dikasih pengertian dan dirawat sebaik mungkin. Kalau menuntut macam-macam, ya, gak bisa. Nanti setelah situasi normal, kita akan gunakan mereka seperti sebelum-sebelumnya,” ucap Purwanto.

Beroperasinya Grand Q saat ini, kata dia, hanya menggunakan tabungan hotel sebelumnya. Mulai dari menjaga kebersihan hotel dan menerapkan protokol kesehatan, yang merupakan anjuran WHO di tempat-tempat publik lainnya. Purwanto menuturkan, hal ini dilakukan setelah Provinsi Gorontalo diumumkan adanya kasus positif virus corona, yang kemudian disusul dengan pemberlakuan PSBB.

“Kami menjalankan imbauan pemerintah, dengan menyiapkan isolasi mandiri. Jadi makan dan minum harus di dalam kamar. Tidak boleh makan di restoran. Kami juga menyediakan alat termogram untuk mengukur suhu tubuh,” ujarnya.

Sejak adanya virus corona, tamu yang datang menginap di Hotel Grand Q tidak lebih dari tiga kamar. Walaupun begitu, Purwanto dan puluhan karyawan yang lain tetap membangun optimisme: bahwa pandemi yang melanda negeri ini akan segera berakhir. Sehingga semua bisa kembali seperti sediakala.***(Alam Indonesia)

Penulis: Apriyanto Rajak

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *