Alam.Id – Udara masih terasa dingin di Kotamobagu, padahal matahari sudah setengah mengintip dibalik gunung dari ufuk timur. Pagi itu saya bangun lebih awal dari biasanya. Di depan rumah terlihat penjual sayur bergantian lewat dengan menggunakan motor yang sudah dimodifikasi menjadi tempat jualan yang menarik. Berbagai sayuran dan rempah terpajang disitu, satu diantaranya sayur gedi.

Di desa saya, sayur gedi tumbuh rimbun di pekarangan rumah: halaman depan, samping maupun belakang. Dengan daun hijaunya yang segar, seakan mengundang hasrat untuk melahapnya. Itu yang mejadi alasan saya untuk tidak membeli.

Sayur gedi umumnya merupakan makanan khas masyarakat Sulawesi Utara. Daunnya lebar seperti membentuk lima jari, dengan ukuran 10-40 cm. Sayur ini bisa dijumpai di Talaud dan daerah-daerah di Bolaang Mongondow. Sayur yang memiliki nama ilmiah Abelmoschus manihot dari famili Malvaceae ini, bisa tumbuh subur di daerah tropis. Dalam bahasa lokal Bolaang Mongondow disebut “Kuyat Yondog”. Kuyat memiliki arti sayur, sedang Yondog itu adalah gedi.

Sayur Gedi Yang Tumbuh di Pekarangan Rumah. Foto: Sumarti Puspasari Mokoginta

Sayur gedi yang merupakan salah satu bahan dalam membuat bubur Manado ini umumnya dimasak dengan cara disantan, tapi ada pula yang direbus, dikukus, atau dibuat kuah bening. Cara memasak sayur gedi pun bisa dibilang mudah, karena hanya menggunakan bumbu-bumbu rumahan saja. Pertama sayur dicuci dahulu, lalu di pisah-pisahkan dan dikeringkan dengan cara digantung seperti jemuran, kesalahan dalam mencuci sayur juga akan berdampak pada tekstur dari daun gedi itu sendiri.

Sembari menunggu sayur gedi kering, panaskan santan pada panci dengan potongan daun bawang. Setelah santannya mendidih, masukan sayur yang sudah kering tadi lalu tambahkan 1-2 sdt garam, diaduk perlahan dan ditutup selama sekitar 3-5 menit. Jangan terlalu lama karena tekstur daun gedi yang terlalu lembek tidak nyaman dikunyah. Setelah itu, sayur disaji pada wadah dan siap untuk disantap.

Walaupun cara memasaknya praktis, tapi campuran masakan sayur gedi pun beragam sesuai selera, ada yang ditambah rebung (oyobung), ubi talas (bete), pisang goroho (tagin loa), ikan cakalang fufu, atau sekadar bunga pepaya. Tapi, seenak apapun sayur gedi, tidak akan lengkap jika tidak pakai sambal yang dibuat dari tomat, cabai dan garam, atau yang biasa disebut ‘dabu-dabu’ oleh orang Mongondow.

Foto: Sumarti Puspasari Mokoginta

Kandungan dan Manfaat Sayur Gedi

Beberapa literatur menyebutkan, selain enak untuk dikonsumsi, sayur gedi juga memiliki nutrisi yang berpotensi digunakan sebagai obat herbal. Misalnya menurunkan kadar kolestrol, sayur memiliki kandungan polifenol berupa tanin terkondensasi, fenoli, dan flavonoid yang terbukti dapat menurunkan kadar kolestrol darah. Tidak heran jika Ibu saya sangat suka makan sayur gedi, karena beliau memiliki kolestrol.

Selain itu, sayur gedi juga akan mencegah dari berbagi penyakit, karena mengandung saponin, alkaloid, dan tripernoid. Juga dapat bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri dan antijamur.

Olahan Sayur Gedi. Foto: Puspasari Mokoginta

Manfaat lain yang saya rasakan sendiri ketika mengonsumsi sayur gedi adalah merasa kenyang lebih lama. Meskipun belum ditemukan penelitian mengenai sayur gedi yang bisa menahan rasa lapar, tapi terbukti dapat membuat kenyang lebih lama. Itu artinya, sayur ini mungkin bisa jadi rekomendasi bagi orang-orang untuk melakukan diet.

Sayur gedi juga memiliki makna tersendiri bagi orang Sulawesi Utara yang tinggal di perantauan, karena di daerah lain sayur gedi sulit ditemukan. Maka dari itu ketika pulang kampung, biasanya orang disambut dengan makanan sayur gedi. Kemudian dari hal itu pula berkembang kebiasaan menyambut sanak saudara/tamu dengan sayur khas ini. Bahkan ada kalimat “Bukang orang Mongondow kalo nintau makang yondog” yang berarti bahwa bukan orang Mongondow kalau tidak bisa makan sayur gedi. Namun, beberapa teman saya di perantauan menganggap bahwa sayur gedi merupakan sayur pemikat. Menurut mereka, orang yang sudah merasakan kenikmatan sayur gedi akan merindukan makanan itu lagi, bahkan tak jarang ada yang memutuskan untuk menikah dengan orang Sulut. Meskipun sering terjadi, tapi anggapan bahwa sayur gedi sebagai pemikat itu masih berupa cerita-cerita dari khasnya sayur gedi.****(Alam Indonesia)

Penulis: Sumarti Puspasari Mokoginta

1 thought on “Sayur Gedi Makanan Khas Orang Mongondow”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *