Hamparan Es Kristal Putih di Ranu Pani, Bromo Tengger Semeru

Alam.Id – Indonesia memang terkenal sebagai negara tropis. Letaknya yang tepat berada di garis khatulistiwa, membuat negara seribu pulau ini tidak bisa merasakan pergantian empat musim seperti negara – negara di Eropa. Tak heran, masyarakat Indonesia begitu excited untuk mengunjungi negara-negara dengan empat musim, sekadar demi merasakan hangatnya musim semi, bahkan dinginnya winter, atau yang biasa ‘orang Indonesia’ sebut musim dingin/musim bersalju.

Tetapi, alam memang sering membingungkan. Tahu tidak? Di negara tropis seperti Indonesia, ternyata kita juga bisa bertemu salju, jika beruntung. Ada beberapa lokasi yang suhunya ‘tidak normal’ (lebih dingin dari biasanya), yang memicu munculnya es atau salju di Indonesia. Salah satunya bisa kita temukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

Foto: Hasanul Muqfy

TNBTS adalah salah satu taman nasional di Indonesia yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang luas wilayahnya mencapai 50.276,3 hektare ini memang berada di ketinggian 750 sampai 3.676 Meter di Atas Permukaan Laut (Mdpl), dengan suhu udara normal 3 hingga 20 derajat celsius. Tak heran, pada waktu-waktu tertentu, beberapa titik di kawasan taman nasional ini bisa berada pada suhu yang amat dingin hingga 0 derajat celsius, bahkan minus. Siapa pun yang ingin merasakan fenomena salju yang tak lumrah di Indonesia, kawasan ini bisa menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi.

Seperti misalnya pada Juli 2019, Kawasan TNBTS dalam cuaca yang amat ekstrem. Gunung Bromo, Ranu Pani, bahkan Gunung Semeru, semuanya terdampak cuaca ini. Pada siang hari, suhu bisa hanya bertahan di 10 derajat celsius, dan malam hari bisa mencapai 0 derajat, hingga -7 derajat celsius. Wisatawan yang pergi mendaki ke Gunung Semeru di waktu tersebut, tentu sudah merasakan ‘saljunya Indonesia’. Saya pun begitu.

Seperti biasa, ketika akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru, tiap pendaki yang sudah mendaftar online sebelumnya, harus kembali melakukan pendaftaran di loket Balai Besar TNBTS di Desa Ranu Pani, mengikuti briefing, lalu boleh mulai melakukan pendakian. Saat itu, karena baru tiba di Ranu Pani sekitar pukul 2 siang, ditambah mengurus ini itu, akhirnya saya dan dua orang kawan saya memutuskan untuk bermalam dulu di Desa Ranu Pani, sebelum mulai mendaki esok paginya. Dan, pilihan kami untuk bermalam di Ranu Pani, tidak pernah kami sesali.

Kami putuskan membangun tenda di pinggir Ranu Regulo, sebuah danau yang ada tepat di tengah desa, tak jauh dari gedung Balai Besar TNBTS. Hari beranjak sore, udara mulai terasa dingin. Awalnya, kami tidak terlalu peduli, dan masih berani berlenggang ke sana ke mari tanpa menggunakan jaket dan sarung tangan. Tetapi, saat langit mulai gelap dan sayup-sayup azan magrib terdengar dari Masjid Desa Ranu Pani, kami mulai menggigil. Awalnya pelan, namun lama kelamaan semakin hebat. Berebutan kami mencari jaket dan sarung tangan, juga apa saja yang bisa menghangatkan kepala. Kian malam, udara semakin dingin. Suhu sudah 0 derajat celsius.

Maka, tidur malam di dalam tenda yang hanya beralaskan matras, tepat di pinggir Ranu Regulo, menjadi siksaan berat bagi kami bertiga, sekaligus sensasi kali pertama kami yang rasakan seumur hidup. Meski jaket dan kaus kaki sudah berlapis-lapis, kaus tangan kualitas terbaik sudah terpasang, ditambah sleeping bag tebal, udara tetap menusuk hingga ke tulang. Namun kami tetap memaksakan diri untuk terlelap. Esok ada jalur pendakian yang menunggu.

Tetapi, ternyata gigil itu tak berhenti saat kami terlelap. Terbangun sekitar pukul 4 subuh, suhu sudah minus 3 derajat celsius. Jari-jari kaku, badan pun harus dipaksa untuk bisa bergerak agar tidak membeku. Dan saat memaksakan diri keluar dari tenda, wus… angin dingin keras menampar wajah dan tubuh. Melihat sekeliling, semua sudah memutih. “Astagah.. ini salju? Gila sekali,” batin saya kala itu sambil menyapukan pandang ke seluruh penjuru Ranu Regulo. Pandangan saya berhenti tepat di tenda kami lagi, dan, tenda itu sudah membeku! Seperti ada parutan es di atasnya. Sebuah sandal hitam yang terletak di depan tenda juga memutih dengan es. Rumput dan alang-alang hijau yang menghampar di sekitar Ranu Regulo pun memutih dan berkilau-kilau karena es. Saat itu, saya bahkan meragukan kalau saya sedang ada di Indonesia.

Ranu Pani, sebuah desa di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang bisa ditempuh selama kurang lebih 2 jam menggunakan mobil dari pusat Kota Malang ini, berhasil menyuguhkan kami es (salju) yang selama ini kami bayangkan hanya bisa kami temukan di negara musim dingin. Berada di ketinggian 2.100 Mdpl, cuaca di Ranu Pani kala itu seakan ingin membantah tropisnya Indonesia. Indonesia yang secara astronomis berada antara 6 lingkar utara – 11 lingkar selatan dan 95 bujur timur – 141 bujur timur, ternyata tidak hanya menjadi negara dengan dua cuaca, yakni memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan curah hujan rendah, tetapi juga bisa begitu dinginnya hingga berhasil menghamparkan es kristal putih di atas tanah tropis, Indonesia.****(Alam Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *