Let’s travel together.

Menjaga Populasi Satwa Endemik di Pulau Sangihe

0

Nama Sangihe mungkin belum akrab di telinga sebagian orang kendati ini adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara. Kabupaten berbentuk kepulauan ini luasnya 736,98 kilometer persegi terdiri dari 105 sebagai pulau terbesar.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, populasi di Kepulauan Sangihe sebanyak 139.262 orang. Sebagian besar penduduk di kepulauan yang terletak di bibir Samudra Pasifik ini bermata pencarian sebagai nelayan.

Kabupaten Kepulauan Sangihe, begitu nama resminya, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 2002. Baik Sangihe serta Talaud saat ini telah berdiri sebagai kabupaten sendiri dan keduanya terletak di wilayah paling utara Indonesia berbatasan dengan perairan internasional Provinsi Davao del Sur, Kepulauan Mindanao di Filipina Selatan.

Dari Sangihe atau Talaud ke Davao berjarak sekitar 1.000 kilometer dan dapat ditempuh lewat perjalanan laut selama 20 jam. Seperti halnya Talaud, kondisi geografis Sangihe terdiri dari wilayah perairan dan pegunungan dengan keragaman kekayaan hayati di dalamnya.

Alam bawah lautnya kaya akan koleksi keindahan terumbu karang dan aneka ikan hias di samping sebagai lumbung ikan nasional terutama jenis tuna, tongkol dan cakalang atau TTC. Sedangkan di daratan, terutama wilayah pegunungan, terdapat aneka jenis flora dan fauna yang tak kalah memikat serta tak jarang merupakan endemik, artinya tidak ditemukan di kawasan lainnya.

Salah satu tempat berdiamnya fauna endemik Sangihe ada di Gunung Sahendaruman, di selatan. Gunung Sahendaruman adalah satu dari empat gunung api purba di daratan Sangihe, selain Gunung Awu di Taman Nasional Sanger. Keduanya adalah gunung api tidak aktif yang telah terbentuk sejak masa Pleistosen sekitar 2,5 juta tahun lampau.

Sahendaruman, menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, merupakan kawasan hutan primer seluas 3.500 hektare yang masih tersisa dari Kepulauan Sangihe. Selain sebagai pemasok air utama masyarakat Sangihe karena terdapat 70 aliran sungai dan anak sungai, Sahendaruman juga menjadi rumah bagi satwa burung.

Hasil penelitian lembaga konservasi burung, Burung Indonesia, pada 2014, menemukan bahwa di sekitar kawasan hutan lindung Sahendaruman terdapat sekitar 18 jenis burung terdiri dari 10 jenis endemik dan delapan lainnya endemik subjenis.

Jika mengacu kepada Daftar Merah Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN), maka sebanyak empat jenis di antaranya masuk kategori kritis (Critically Endagered/CR) dan lima  lainnya rentan (Vulnerable/VU) terhadap kepunahan. Burung seriwang sangihe merupakan satu di antara empat jenis aves berkategori kritis tadi.

Pemilik nama latin Eutrichomyias rowleyi itu pertama kali ditemukan oleh pakar konservasi asal Cambridge, Inggris, George Dawson Rowley. Bermula ketika Georg Eberhard Rumpf alias Rumphius, pakar botani Jerman mengeksplorasi wilayah timur Nusantara pada 1660.

Rumphius saat itu mengabarkan kepada para ahli biologi Eropa akan kekayaan alam Indonesia. Kabar ini pertama kali coba dibuktikan kembali oleh Alfred Russel Wallace. Biolog Inggris itu pun mengadakan ekspedisi pada 1854-1862.

Selama menjelajahi Nusantara, Wallace telah menempuh perjalanan sekitar 14.000 mil atau setara dengan 22.400 km untuk mengumpulkan 310 spesimen mamalia, dan 100 spesimen reptil. Kemudian 8.050 spesimen burung, 7.500 spesimen kerang, dan 109.700 spesimen serangga seperti kupu-kupu, lebah, atau ngengat. Wallace juga menemukan adanya perbedaan antara hewan Asia dan Australia dengan membuat apa yang disebut sebagai Garis Wallacea, sebuah garis biogeografi yang membentang mulai dari timur Bali hingga sebelah barat Papua (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara) serta wilayah Timor.

 

Sempat Dinyatakan Punah

Dua penemuan besar Rumphius dan Wallace ini makin memantapkan niat Rowley untuk ikut mengeksplorasi Nusantara lewat sebuah ekspedisi bersama sejumlah sejawatnya, termasuk pakar burung (ornitolog) asal Jerman Adolf Meyer, pada 1870. Dalam persinggahannya di Sangihe pada 1872, seperti ditulis dalam jurnal Nature, Rowley menyempatkan menjelajahi Sahendaruman dan menemukan sekelompok burung yang belum pernah dicatat oleh Wallace. Ukurannya tak lebih dari 18 sentimeter, ciri fisiknya ditandai dengan bagian atas biru agak gelap, sementara bagian bawahnya abu-abu kebiruan lebih pucat.

Kesenangannya menghuni hutan di ketinggian 450-750 meter di atas permukaan laut terutama di kanopi pohon dan sub kanopi pada ketinggian hingga 15 meter. Dalam Ornithological Miscellany, Rowley menulis bahwa seriwang sangihe adalah tipe pemakan serangga (insectivora). Satu spesimen seriwang sangihe kemudian ia berikan kepada Meyer untuk dijadikan koleksi pada 1873. Dalam sejumlah literasi disebutkan bahwa Rowley menjualnya kepada Meyer pada 1878.

Sejak penemuan itu, para pakar burung nasional dan dunia praktis sulit menemukan satwa yang ditulis Rowley sebagai burung pemalu tersebut. Hanom Bashari yang meneliti populasi seriwang sangihe pada 2014 dan hasilnya diterbitkan pada Jurnal Kukila, pada 2016, menyebutkan bahwa ada klaim temuan satwa tersebut. Itu terjadi pada 1978 ketika peneliti burung Murray D Bruce meneliti di kawasan Gunung Awu. Sayangnya temuan itu tidak diakui karena tidak disertai bukti.

Upaya serupa juga dilakukan oleh dua pakar burung dunia, Frank G Rozendaal dan David Bishop yang menjelajahi Sahendaruman dan Awu hanya untuk menemukan kembali seriwang sangihe pada rentang Mei 1985 hingga awal 1986. Sayangnya Rozendaal dan Bishop pulang dengan tangan hampa, tak menemukan bukti kehadiran satwa yang diketahui kerap mencari makan hingga ke lereng atau dasar lembah dekat sungai di Sahendaruman.

Hingga akhirnya pada 1998, dua peneliti, John Riley dari University of New York, Amerika Serikat dan James C Wardill (University of Leeds, Inggris) berhasil membuktikan bahwa satwa tersebut belum punah. Riley dan Wardill patut berterima kasih kepada Anius Dadoali, tokoh masyarakat asal Kampung Ulung Peliang, Kecamatan Tamako, Sangihe.

Om Niu, sapaan Anius, adalah orang pertama yang menemukan kembali seriwang sangihe sejak dinyatakan punah selama lebih dari 120 tahun silam. Ketika hendak mengambil air di hutan Sahendaruman, awal Oktober 1998, ia mendengar suara lima ekor seriwang sangihe di ranting pohon dekatnya mengambil air. Temuan itu langsung disampaikan kepada Riley dan Wardill yang kebetulan sedang melakukan riset di hutan Sangihe. Burung itu pun akhirnya diberi nama lokal manu niu, atau burung niu.

 

Tambang Emas Liar

Kendati telah hampir 23 tahun silam sejak ditemukan kembali, populasi manu niu belum beranjak aman. Hanom menyebut, tak lebih dari 150 individu seriwang sangihe berada di hutan Sahendaruman. Sedangkan, hasil survei Burung Indonesia mengatakan, jumlahnya tak lebih dari 114 individu saja.

Selain potensi ancaman para pemburu liar, manu niu juga menghadapi musuh lainnya. Yaitu kehadiran pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sekitar lembah dan lereng Gunung Sahendaruman. Mereka juga hadir di kawasan lain dari Pulau.

Para penambang ilegal itu hadir bukan tanpa alasan karena terdapat potensi sumber daya emas di sana. Lembaga Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut, jumlah petambang PETI mencapai ratusan orang yang bekerja pada puluhan lubang termasuk di perut Sahendaruman sejak 1980-an.

Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pernah meneliti kandungan mineral di Sangihe pada 2002 dan menemukan besarnya potensi emas di sana. Kendati tidak disebutkan berapa jumlahnya, kehadiran sejumlah gunung api bawah laut di sekitaran perairan Sangihe menjadi sumbu utama munculnya endapan emas ke daratan. Kuantitas dan kualitas emas yang dihasilkan sangat bergantung pada proses geologi yang menyertainya.

Namun, sebuah perusahaan tambang emas asal Kanada sudah memiliki jawaban berapa banyak kandungan emas di perut Sangihe. Menurut perusahaan yang berkantor di Jakarta tersebut terdapat sekitar 3,16 juta ton kandungan emas berkadar 1,13 gram per ton batuan serta 19,4 gram perak per ton batuan di perut Sangihe siap untuk mereka keluarkan.

Namun, semua itu bukan tidak mungkin bakal menjadi sebuah ancaman. Bukan saja untuk kelestarian lingkungan setempat, melainkan juga bagi kelangsungan hidup para seriwang sangihe.

Lebih jauh lagi, tidak hanya satwa penghuni alam di Sangihe saja yang bakal terganggu habitatnya. Sangihe sendiri berada di persimpangan Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, serta Lempeng Sangihe dan Lempeng Laut Maluku. Maka bila terdapat patahan, tanah di Sangihe bisa turun secara tiba-tiba, selain ada juga ancaman gempa.

Eksploitasi oleh PETI hingga membuat lubang-lubang sedalam 150-200 meter di bawah permukaan tanah membuat strukturnya bakal menjadi makin labil dan sewaktu-waktu berpotensi terjadinya longsor.

 

 

Penulis: Anton Setiawan

Leave A Reply

Your email address will not be published.